Latest: Download eBook Pramoedya Ananta Toer | Series: Salam Bhineka Tunggal Ika | Indonesia

Mahasiswa PPL Gelar Pelatihan Kepemimpinan

0 comments

Analisadaily (Medan)-Mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) yang sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) menggelar pelatihan kepemimpinan di SMK Azizi Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang,  Kamis (29/10).

Dalam pelatihan ini, Nurul Hidayah yang merupakan Guru Bimbingan Konseling di SMK Azizi memaparkan materi tentang Etika. Menurutnya, etika merupakan salah satu nilai fundamental yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk menghadapi dinamika kehidupan.

Seorang mahasiswa peserta PPL, Iis Soleha mengajak seluruh peserta seminar agar senantiasa menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan positif baik di dalam maupun luar sekolah.
Iis yang juga merupakan Ketua Umum HMI Komisariat FIS Unimed menambahkan, siswa yang aktif dalam organisasi tidak bisa dinafikan karena pada prinsipnya setiap manusia merupakan makhluk sosial dan organisasi mengajarkan kita bagaimana cara bersosialisasi dengan sesama.
Pelatihan kepemimpinan diikuti 50 orang siswa SMK  Yayasan Pendidikan Nur Azizi yang mayoritas merupakan pengurus OSIS.

Kepala SMK Nur Azizi, Rita Andriyani Sitorus berharap, melalui pelatihan ini ke depannya akan timbul semangat-semangat kepemimpinan di kalangan siswa agar tercapainya visi misi SMK Nur Azizi.
“Minimnya karakter pemimpin yang ada saat ini, mampu kembali diangkat melalui kegiatan-kegiatan seperti ini agar generasi penerus bangsa bisa menumbuhkan benih-benih kepemimpinan sejak usia dini,” katanya.
Fachmi A.S Sihaloho yang membawa materi OSIS sebagai organisasi intra sekolah menghimbau agar seluruh siswa tidak larut dalam akulturasi budaya yang sekarang sudah merebak dalam kehidupan masyarakat, namun harus lebih bijak dalam memilah aktivitas yang layak untuk ditekuni.
“Siswa merupakan pemuda. Pemuda itu harus mampu bergerak demi terwujudnya cita-cita bangsa. 1000 orang tua belum tentu mampu berbuat apa-apa, namun satu pemuda sudah bisa mengguncang dunia,” tandas Fahmi Chandra Zega.

Sumber : Analisa


Hukuman Mati dan Intervensi

0 comments

Hai sobat blogger
kali ini blog Lebih Cinta Indonesia akan berbagi ke sobat blogger tulisan saya yang dimuat di salah satu media cetak yaitu Harian Analisa pada
Selasa, 24 Februari 2015 dengan judul "Hukuman Mati dan Intervensi". tulisan ini terinspirasi dari ekspresi kekecawaan rakyat indonesia terhadap sikap inkonsistensi pemerintah dalam menanggapi kasus Bali Nine...
Selamat membaca.... 

Opini Harian Analisan Selasa, 24 Februari 2015

Hukuman Mati dan Intervensi


Oleh: Rizki Fahrian. Melihat permasalahan Narkoba (Nar­kotika, Psikotropika dan zat-zat adiktif lain­nya) di republik ini yang semakin me­­rajalela, sudah sepatutnya kita mem­berikan perhatian ekstra. Zat-zat adiktif yang awalnya diciptakan untuk kepenti­ngan dunia medis telah beralih fungsi dengan disalahgunakan untuk mempe­ro­leh efek anti depresi bagi setiap peng­gu­nanya bila digunakan dalam dosis ter­tentu.
Narkoba tak lagi mengenal strata sosial, profesi, umur dan gender. Ia seakan telah merambah ke segela lapisan tanpa ada batasan.  Kini di Indonesia terdapat 5 juta pengguna narkoba, dan 2 juta jiwa diantaranya dalam keadaan ketergantungan parah sehingga tidak bisa lagi direhabilitasi. Maka bila dikal­ku­la­sikan, bila pecandu sabu-sabu mem­bu­tuhkan satu gram per hari, artinya ada 5 ton sabu per hari yang beredar. Dan dari sejumlah fakta yang ditemukan bahwa dari 5 juta pengguna narkoba, sekitar 40-50 orang tewas setiap harinya. (cnn­indo­nesia.com, 20/01/2015)
Melihat fakta tersebut sangat wajar bila saat ini Indonesia masuk dalam fase darurat bahaya narkoba dan butuh ke­se­riusan penuh untuk menang­gulangi ma­salah ini. Meskipun dalam beberapa ka­sus melalui para aparat penegak hukum upaya untuk penyeludupan narkoba ke In­donesia dapat digagalkan, namun ba­rang haram tersebut tetap saja masih bisa di­temui. Dengan berbagai cara dan mo­dus baru bahkan terkadang tidak pernah sedikit pun terbesit dalam pikiran kita cara tersebut dapat dilakukan. Hal ini tentunya sebanding, karena kegiatan ini telah menjadi bisnis yang menggiurkan sekaligus menjanjikan.
Melihat kondisi geografis Indonesia yang sangat luas dan teridiri atas ke­pulauan memberi ruang gerak yang cu­kup bagi para bandar dan pengedar untuk me­lakukan mobilitas transaksi yang em­puk. Di tambah lagi, adanya ban­­tuan dari beberapa oknum WNI yang ber­sedia menjadi kurir dengan iming-iming umpah selangit. Meskipun masih banyak praktek penjualan barang haram tersebut yang “kecolongan” dari perha­tian aparat penegak hukum, namun tidak se­dikit pula  kasus yang berhasil di­ta­ngani.
Bali Nine
Salah satuya adalah kasus yang di­kenal dengan sebutan “Bali Nine” yang kini sedang hangat diperbincang­kan. Ka­sus ini bermula ketika sekelompok warga negara Australia yang terdiri atas 9 orang mencoba untuk menyeludupkan 8,3 Kg heroin ke Bali melalui jalur udara. Na­­mun aksi mereka tidak berjalan de­ngan mulus karena petugas telah men­cium gerak-gerik yang mencu­ri­gakan. Ber­dasarkan penemuan alat bukti ter­sebut, mereka dibekuk di bandara Ngurah Rai, Bali, pada April 2005.
Kasus ini berlanjut di persidangan meja hijau yang berbuntut pada dijatuh­kan­nya vonis hukuman mati terhadap 2 orang diantara 9 terpidana lainnya. Su­ku­maran dan Andrew Chan divonis mati atas perbuatannya pada tahun 2006. Na­mun kasus ini tak kunjung usai, karena para terpidana tersebut merasa diper­lakukan tidak adil dan terus berupaya untuk melakukan memperoleh keadilan melalui upaya banding, kasasi, bahkan sam­pai upaya peninjauan kembali. Namun dari kesemua upaya hukum tersebut tak satu pun berbuah manis, upaya hukum yang diajukan ditolak.
Penolakan Grasi
Setelah berbagai upaya telah dilaku­kan, namun juga tak merasa mendapatkan keadilan tidak membuat para terpidana ber­­henti berupaya. Sebagai upaya te­ra­khir, mereka mengajukan permoho­nan grasi kepada Presiden Republik Indo­ne­sia. Secara sederhana, dapat kita pa­hami bah­wa grasi sendiri adalah hak pre­siden untuk memberikan ampunan ter­hadap para terpidana dengan pertim­ba­ngan dan alasan yang kuat.
Permohonan grasi pun sampai ke ta­ngan presiden. Dan akhirnya beliau mengambil sikap untuk tidak memberi­kan ampunan terhadap para terpidana tersebut. Patut diapresiasi, sikap yang be­liau pilih. Beliau, tegas mengatakan bah­wasanya tidak memberi ampun ter­hadap para bandar dan pengedar narkoba. Setelah penolakan tersebut, maka dapat dipastikan Sukumaran dan Chan akan dieksekusi sesuai dengan putusan yang telah dijatuhi terhadap mereka.
Berbagai Intervensi
Setelah Presiden Jokowi  menan­da­tangani penolakan grasi terhadap para ter­pidana kasus narkoba tersebut, sontak men­datangkan kemarahan, tentangan bah­kan dalam bentuk ancaman dan Inter­vensi yang disampaikan melalui media. Hal ini langsung disampaikan oleh Perdana Menteri Australia, Tony Abott.
Sebagai upaya untuk melindungi warga negaranya, dalam salah satu jumpa pers ia menyatakan, untuk memper­tim­bangkan kembali kepu­tusan yang diambil oleh pemerintah Indonesia mengeksekusi dua warga negaranya. Menurut Abott, ma­sih ada cara lain selain hukuman mati yang dapat diberikan terhadap para terpidana kasus narkoba.
Desakan untuk tidak melaksanakan ek­sekusi mati juga digulingkan dengan beberapa ancaman dari pemerintah Australia. Mulai dari upaya menarik Duta Besar Australia dari jakarta dan iklim buruk di bidang inventasi perekonomian.
Menteri Luar Negeri Australia Julia Bis­hop juga turut angka bicara. Ia me­ngatakan bisa menggiring opini publik agar warga Australia tidak berwisata ke In­donesia terkhusus bali yang selalu men­jadi pilihan utama berlibur warga ne­garanya. Aksi ini mulai ramai di­per­bincangkan di dunia maya melalui je­jaring sosial twitter dengan ajakan “Boi­kot Bali”. Bahkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki-moon, meminta Indonesia mem­batalkan pelaksanaan hukuman mati atas sejumlah terpidana mati ter­ma­suk dua warga negara Australia.
Empati yang Tidak Tepat
Melihat sikap yang diambil oleh per­dana menteri Australia, Meskipun be­berapa kalangan menyatakan bahwa itu adalah hal yang wajar sebagai bentuk pem­­belaan dan perlindungan terdapat hak hidup warga negaranya namun hal ini terkesan pemerintahan Australia tidak sedikitpun menghargai hukum yang berlaku di Indonesia.
Terlebih lagi sikap yang diambil oleh Ban Ki-moon, penulis sependapat dengan  kritik yang disampaikan oleh Guru besar Hu­kum Internasional Universitas In­do­ne­sia, Hikmahanto Juwana. Menurut be­liau, Ban Ki-moon cenderung melaku­kan intervensi dan membela negara-ne­gara maju di PBB. Hal ini sangat berdasar; pertama, dimanakah beliau ketika Rumiyati yang harus menjalani hukuman mati di Arab Saudi ? ; kedua, beliau tidak sadar banyak orang mati karena ketergan­tungan narkoba, dimanakah suara beliau terhadap suara korban ? mengapa beliau berempati terhadap pelaku tetapi tidak pada korban ? (Tribunnews.com, 15/2/2015).
Seakan tak Mempunyai Martabat
Dunia seakan berlaku pilih kasih, me­ngapa hanya Indonesia yang diperla­ku­­kan seperti tidak memiliki marwah un­tuk menegakkan hukum, sementara ma­­sih banyak negara yang menerapkan hu­kuman mati terhadap beberapa kasus pi­­dana. Dengan mudahnya mereka me­la­­kukan intervensi bahkan berupa an­ca­man. Mungkinkah penegakan hukum kita masih setengah hati ? Dan hukum da­pat dibeli ? atau mungkin dari beberapa ka­sus terakhir kita dinilai takut menegak­kan hukum dengan gertakkan dan an­ca­man?
Berbicara tentang penegakan HAM bukankah langkah ini ditujukan untuk memperjuangkan Hak asasi warga negara Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa dari bahaya narkoba. Sesuia bunyi pembukaan UUDNRI Tahun 1945 untuk melin­dungi setiap tumpah darah Indonesia.
Semoga kedepannya permasalahan penegakan hukum di Indonesia dapat ditegakkan dengan seadil-adilnya menurut hukum. Dengan harapaan bahwa Indonesia sejatinya adalah negara hukum secara aplikatif bukan hanya sebagai teori. ***
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan PPKn Universitas Negeri Medan

Semoga bermanfaat


PSMS Medan Juara Piala Kemerdekaan

0 comments

Hai sobat blogger....
kali ini blog lebih cinta Indonesia akan berbagi info menggembirakan. Klub sepakbola kebanggaan masyarakat kota medan dengan julukan ayam kinantan PSMS Medan tampil sebagai juara Piala Kemerdekaan seusai mengalahkan Persinga Ngawi dengan skor 2-1 pada laga final di Stadion Gelora Bung Tomo, Minggu (13/9/2015).

PSMS meraih ini dengan susah payah karena sempat tertinggal lebih dulu dan bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-40.
Persinga unggul terlebih dulu pada menit ke-26. Gol berawal dari umpan silang yang dilepaskan pemain Persinga dari sisi kiri pertahanan PSMS. Kiper PSMS, Guntur Pranata, berusaha menghalau bola.


Namun, usaha Guntur malah menjadi petaka karena bola jatuh ke kaki Jefri Kurniawan. Tak ingin kehilangan momentum, Jefri langsung menyarangkan bola ke tengah gawang.
Persinga semakin di atas angin setelah unggul pemain sejak menit ke-40. PSMS harus bermain dengan 10 pemain menyusul dikartumerahkannya Asrul Risahondua.

Kendati demikian,PSMS tetap memberikan perlawanan. Usaha mereka membuahkan hasil setelah pemain pengganti Aldino Herdanto mencetak gol pada menit ke-62. Aldino membobol gawang lawan dengan melepaskan tandukan keras yang tak mampu dibendung kiper Aditya Fajar.
Gol tersebut membuat mereka semakin percaya diri. PSMS akhirya memenangi pertandingan melalui gol Legiminin Raharjo pada masa injury time. Kapten PSMS tersebut mencetak gol dengan tandukan yang dilepaskannya, memanfaatkan umpan tendangan bebas dari rekannya.

Sumber : Tribun News


Opini: "Pembunuhan Kedaulatan Dikabulkan"

0 comments

Hai sobat blogger
kali ini blog Lebih Cinta Indonesia akan berbagi ke sobat blogger tulisan saya yang dimuat di salah satu media cetak yaitu Harian Analisa pada 30 September 2014 dengan judul "Pembunuhan Kedaulatan Dikabulkan". tulisan ini terinspirasi dari ekspresi kekecawaan rakyat indonesia terhadap uu pilkada yang telah disahkan oleh DPR jum'at 26 september 2014....


Opini Harian Analisan selasa, 30 september 2014 




Semoga Bermanfaat
Salam Bhineka Tunggal Ika






Opini: "Sampai Kapan Hanya Menjadi Penonton Budiman ?"

0 comments

Hai sobat blogger
kali ini blog Lebih Cinta Indonesia akan berbagi ke sobat blogger tulisan saya yang dimuat di salah satu media cetak yaitu Harian Analisa pada 13 Juni 2014 dengan judul "Sampai Kapan Hanya menjadi Penonton Budiman". tulisan ini terinspirasi dari kekecawaan semua pecinta bola khususnya di Indonesia yang tidak dapat merebut tiket di piala dunia FIFA 2014 Brazil. tujuan utama tulisan ini adalah membangkitkan gairah sepak bola indonesia agar dapat berbicara banyak di pentas dunia ....

Opini Harian Analisa Jum'at, 13 Juni 2014





Semoga Bermanfaat
Salam Bhineka Tunggal Ika


Perbedaan Kurikulum 2013 dengan kurikulum 2006

0 comments

Kesempatan kali ini Blog Lebih Cinta Indonesia akan berbagi ke sobat blogger perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum 2006. Kurikulum 2013 sudah diterapkan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada sekolah-sekolah. Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi pada tanggal 15 Juli 2013. dalam penerapannya kurikulum 2013 masih diterapkan pada siswa kelas I dan IV SD, VII SMP dan X SMA. namun dengan alasan minimnya sosialisasi dan ketidaksiapan guru maupun fasilitas sekolah, kurikulum 2006 masih menjadi pilihan untuk diterapkan. patut kita sadari bersama untuk melakukan perubahan tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit ataupun bersifat instan. ada kata bijak yang mengatakan bahwa "dalam melakukan perubahan tentunya akan beresiko, tetapi akan lebih beresiko bila kita tidak melakukan perubahan". maka dari itu sekilas akan kita bahas apa yang menjadi perbedaan dan persamaan yang ada pada kurikulum 2013 dengan kurikulum 2006.


No
Kurikulum 2013
KTSP
1 SKL  (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih dahulu, melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013. Setelah itu baru ditentukan Standar Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar Kurikulum, yang dituangkan dalam Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70 Tahun 2013 Standar Isi ditentukan terlebih dahulu melaui Permendiknas No 22 Tahun 2006. Setelah itu ditentukan SKL (Standar Kompetensi Lulusan) melalui Permendiknas No 23 Tahun 2006
2 Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan lebih menekankan pada aspek pengetahuan
3 di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-VI di jenjang SD Tematik Terpadu untuk kelas I-III
4 Jumlah jam pelajaran per minggu lebih banyak dan jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP Jumlah jam pelajaran lebih sedikit dan jumlah mata pelajaran lebih banyak dibanding Kurikulum 2013
5 Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK dilakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach), yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta. Standar proses dalam pembelajaran terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi
6 TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran TIK sebagai mata pelajaran
7 Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil. Penilaiannya lebih dominan pada aspek pengetahuan
8 Pramuka menjadi ekstrakuler wajib Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib
9 Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang SMA/MA Penjurusan mulai kelas XI
10 BK lebih menekankan mengembangkan potensi siswa BK lebih pada menyelesaikan masalah siswa
Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).  Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Sumber : http://fatkoer.wordpress.com/2013/07/28/perbedaan-kurikulum-2013-dan-ktsp/


  • MBT Icons and buttons

    Pidato Bung Karno

    Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri!

  • choosing webhost for a blog

    eBook Pramoedya Ananta Toer

    Pramoedya Ananta Toer, Kandidat Asia Paling Utama Untuk Hadiah Nobel. --Time--

  • SEO Settings for blogger

    Figur Penebar Inspirasi

    Mantan Wapres Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Rektor Univ. Paramadina Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Ketua KPK Abraham Samad!

  • Blogger widgets and plugins

    4 Pilar Berbangsa dan Bernegara

    Pancasila, Undang undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika!

  • become a six figure blogger!

    Presiden dan Wakil Presiden Indonesia

    Nama serta Biography singkat para pemimpin yang pernah menjadi orang No. 1 dan No. 2 di Republik Indonesia!

About Founder

Hallo!Nama saya Rizki Fahrian, Lahir pada tanggal 30 April 1995, saya dilahirkan di kota Medan. Sekarang saya adalah seorang Mahasiswa di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. Blog ini saya namakan Lebih Cinta Indonesia karena pada awalnya dan sampai saat ini motivasi utama dibentuknya Blog ini untukRead More..

Recent Comment

Site Info